Pilihan Terakhir: CeraiBab 3
Bab ini panjangnya sekitar 3.847 karakter, salah satu dari 4 bab contoh yang bisa dibaca di web ini
Aku mengerutkan kening dan langsung menendang kursi hingga terdengar suara keras.
Kevin menyadari ada yang tidak beres denganku dan segera menurunkan sikap angkuhnya.
"Aku tahu kamu merasa tersakiti, tapi semuanya sudah terjadi. Jadi, jangan bersikap seperti anak kecil lagi ya."
"Bukankah dulu waktu pesan hotel kamu bilang mau tinggal di hotel bintang lima? Ya sudah, kita nggak usah berhemat lagi, langsung ganti saja sekarang!" kataku.
Di dalam hatiku, aku tertawa dingin. Masih ingin bermain licik denganku?
"Baiklah, Sayang. Kamu memang baik sekali!"
Namun, sesaat kemudian, Kevin menerima pesan dari bank.
"Wilda, kenapa kamu pakai kartu kreditku dan menghabiskan uang sebanyak ini?"
"Bukankah kamu yang bilang ingin menginap di hotel bintang lima?" tanyaku dengan polos.
"Aku memang ingin menginap di hotel bintang lima, tapi bukan dengan menggunakan kartu kreditku."
Aku tertawa dan berkata, "Aku mau menghabiskan berapapun, itu nggak perlu persetujuanmu. Gaji bulanan cuma 7 juta saja mau gaya-gayaan jadi orang kaya!"
Mendengar kata-kataku, wajah Kevin langsung memerah.
"Apa maksudmu?"
Sejak kami menikah, kami selalu menerapkan sistem keuangan sendiri.
Aku yang menanggung semua biaya rumah tangga, sedangkan mereka sekeluarga menikmati semuanya.
Seandainya bukan karena aku, mereka sekeluarga pasti sudah kesulitan hidup. Baru beberapa hari merasakan hidup enak, sudah lupa siapa yang menjadi penopang mereka.
Jika mereka begitu menyukai Fanny dan anaknya, aku akan biarkan mereka semua terjebak dalam situasi ini.
"Seorang perempuan yang terus bertengkar dengan suaminya menunjukkan bahwa mereka nggak patuh dan pengertian."
"Sebaiknya cepat masak. Apa kamu ingin membuat seluruh keluarga kelaparan?"
Ayah mertuaku menatapku tajam sambil duduk di sofa.
Kalian masih ingin memperlakukanku seperti pembantu? Jangan mimpi.
"Fanny, kamu sudah tumbuh besar bersama Kevin sejak kecil, 'kan? Apa kamu belum pernah mencicipi masakan Kevin?"
Fanny memutar bola matanya.
"Tentu saja pernah! Dulu, saat orang tuaku nggak ada di rumah, Kevin yang selalu membuatkan makanan untukku!"
"Kevin sekarang jauh lebih pandai memasak."
Aku menatap suamiku.
"Kevin, apa kamu nggak dengar Fanny bilang apa? Apa kamu masih belum mau menunjukkan keahlian memasakmu?"
Aku mengambil stroberi dari tangan Revan, lalu duduk di sofa bermain ponsel.
Melihatku menyuruh Kevin, ibu mertuaku langsung menunjukkan ekspresi tidak senang.
"Bagaimana mungkin laki-laki masuk dapur untuk memasak!"
Aku melihat ke arah Kevin dan berkata sambil tersenyum, "Fanny sudah jauh-jauh datang ke sini membawa anaknya, apa kamu nggak mau menjamunya dengan baik?"
Wajah Kevin tampak tidak enak. Dia meminta bantuan dari ibu mertuaku.
Ibu mertuaku menggaruk kepalanya dan terpaksa memasak untuk anaknya.
Setelah lama hidup nyaman, ibu mertuaku yang terbiasa dimanjakan kini harus sibuk di dapur.
Di meja makan, ibu mertuaku tersenyum sambil menyendokkan makanan untuk Fanny dan anaknya.
"Fanny, aku masih ingat kamu suka makanan pedas, jadi aku membuat berbagai hidangan khusus untukmu. Makanlah yang banyak!"
Aku tersenyum sinis. Dia tahu aku tidak suka makanan pedas, tetapi masih saja membuatku kesal seperti ini.
"Wilda, Fanny adalah tamu. Kalau kamu nggak suka, masak mie sendiri saja!"
Aku langsung membanting sendok ke meja.
"Kalian makan saja, aku mau keluar makan enak!"
Kevin menatapku dengan wajah penuh amarah.
"Wilda, Ibu sudah tua dan rela masak untukmu, tapi kamu malah nggak mau makan. Apa yang ada di otakmu?"
"Lagipula, barang-barang belum beres dikemas. Mau ke mana kamu?"
"Kalian kan suka Fanny, suruh saja dia yang membereskannya! "
Semua orang terdiam mendengar ucapanku.
Aku membanting pintu dan pergi menuju hotel bintang lima. Di sana, aku makan sampai kenyang, minum sepuasnya, dan bahkan menikmati spa.
Aku punya uang dan bisa mendapatkan apa pun yang aku mau. Kenapa aku harus menjadi pembantu mereka?